Home » , , , , » Manusia Atau Keledai

Manusia Atau Keledai

Written By Muhammad Yuliawan on Minggu, September 12, 2010 | 9/12/2010


Keledai itu hewan mirip kuda. Tapi badannya lebih kecil. Dalam Alquran keledai beberapa kali disebut sebagai sebuah alegori.

Ketika Luqmanul Hakim memberi nasihat pada putranya, maka salah-satu isi nasihatnya, "Sederhanakanlah dirimu ketika berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."

Dalam Alquran, keledai disebut himar. Suaranya disebut sebagai seburuk-buruk suara. Bagaimanakah sebenarnya suara keledai? Walaupun bentuk badannya mirik kuda, suaranya tidak mirip kuda. Kuda meringkik sedangkan keledai tidak. Suara keledai, memang jelek didengar, melengking tajam. Ada yang menyebutnya seperti "merobek langit". Pokoknya, orang tidak suka mendengar suara keledai.

Untung saja keledai tidak sering bersuara, bahkan amat jarang memperdengarkan suaranya. Konon, ketika semua makhluk diciptakan, pertama kali yang dia keluarkan suaranya. Yang tidak mengeluarkan suara hanya keledai. Keledai baru bersuara ketika ia lapar. Dari sini ada I'tibar, jangan baru mau bersuara kalau menyangkut urusan perut. Itu namanya manusia keledai.

Ada yang mengatakan bahwa keledai adalah binatang paling dungu. Ternyata itu tidak benar. Keledai justru amat cerdas dan memorinya kuat.

Keledai dengan segera dapat menghapal satu rute perjalanan panjang dalam sekali menempuhnya. Dia akan segera hapal, mana lubang, mana batu dan mana bagian jalan yang jelek. Itu sebabnya, tuannya tidak perlu repot mengendalikannya. Keledai bahkan bisa dilepas sambil berjalan sendiri mengikuti rute yang sudah pernah dilaluinya dengan aman.

Zaman dulu, terutama di Timur Tengah, keledai merupakan andalan pengangkut beban. Bahkan para ulama menjadikannya sebagai pembawa kitab.

Tentang keledai bawa kitab ini, Tuhan mempunyai perumpamaan untuk pemuka-pemuka Yahudi dahulu. Mereka diumpamakan sebagai keledai yang membawa-bawa kitab, karena mereka hanya menenteng kitab Taurat di tangannya tapi tidak mengamalkan isinya.

Tentu saja perumpamaan itu tidak hanya ditujukan Tuhan kepada pemuka Yahudi pemegang Taurat. Ia juga berlaku pada siapa saja yang hanya pamer menenteng kitab suci namun tidak mau tahu isinya dan tentu saja tidak mengamalkannya.

Bulan Ramadan yang sudah kita lalui adalah momentum untuk kita semakin memanusiakan diri dengan sifat-sifat kemanusiaan sejati. Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Alquran. Di dalam Alquran ada alegori-alegori tentang hewan, seperti tentang keledai itu. Tujuannya agar manusia tetap sadar mau menjaga kemanusiaannya. Jangan sampai manusia lebih cenderung menghewan karena sifat-sifat buruknya.

Jangan sampai manusia jadi manusia keledai, yang baru bersuara kalau menyangkut urusan perut. Betapa bahayanya manusia bila nafsu menyeretnya hingga berperilaku bagai hewan. Daya rusaknya terhadap kehidupan sangat besar dan berlangsung lama. Betapa tidak, karena manusia punya kecerdikan berpikir. Ketika kecerdikannya terpadu dengan nafsu buruknya, maka lahirlah manusia licik yang amat bahaya. Semoga saja kita tidak termasuk di dalamnya, Amin.


Share this article :

18 comments:

  1. Renungan mantap,minal aidzin wal faidzin....

    BalasHapus
  2. mudah mudahan aq di jauh kan dari sifat2 manusia keledai..Selamat hari raya idul fitri,minal aidin wal faidzin

    BalasHapus
  3. Waah, pencerahan yang bagus dari kisah keledai nih.. Btw, saya belum pernah dengar suara keledai (tp kalo suaranya benar gak enak, mending gak usah dengar deh) Ha ha.. .
    Met lebaran ya pak, mohon maaf lahir batin.
    Salam saya.. .

    BalasHapus
  4. semoga kita termasuk manusia yang selalu dekat dengan kebaikan sehingga tidak seburuk ungkapan keledai

    BalasHapus
  5. assalamualaikum wr wb..
    bagaimana kabar idul fitri di rumahnya pak..?

    saya baru tau : keledai itu binatang cerdas.. :)

    BalasHapus
  6. makasih dah berbagi bang, mohon maaf lahir dan bathin :)

    BalasHapus
  7. subhanallah, semoga kita tidak sampai terjebak dan terperangkap ke dalam karakter hewan yang satu ini.

    BalasHapus
  8. Kisah yang penuh hikmah dan pencerahan. Kira-kira jika manusia kuda dan kerbau gimana kiasannya.

    BalasHapus
  9. Amin . Mari kita ambil yang baiknya, dan jangan meniru yang jeleknya. saya setuju sama njenengan mas.

    BalasHapus
  10. Amin. Selamat pagi bang Iwan.

    BalasHapus
  11. Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh
    Jika hati seputih awan, jangan biarkan dia mendung
    Jika hati seindah bulan, hiasi ia dengan iman
    Mohon maaf lahir batin

    BalasHapus
  12. hahahaha, tapi manusia di zaman sekarang sudah banyak yang jadi keledai,,, mantap pencerahanya om... sukses ya om....

    BalasHapus
  13. sekarang banyak saudara kita yang bicara dan bertengkar tapi ngomongnya lebih kasar dari binatang

    BalasHapus
  14. menjadi sulit menemukan peternakan keledai... ketimbang peternakan sapi, kerbau, kuda... unta; beberapa heean yang sempat disinggung dalam al qur'an

    BalasHapus
  15. Kasihan keledai ya bang padahal bentuknya gak jelek2 amat lho.
    Manusia adalah makhluk yang paling indah, jadi ya jangan sampai seperti keledai kelakuannya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  16. Semoga kita dijauhkan dari sifat seperti manusia keledai.

    BalasHapus
  17. Salam kenal. Artikel yang menarik, ijin share

    BalasHapus

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : FATAMORGANA
Copyright © 2015. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger