Home » » CALEG PERAIH SUARA MINIM

CALEG PERAIH SUARA MINIM

Written By Muhammad Yuliawan on Minggu, April 19, 2009 | 4/19/2009

Pemilu legislatif 2009 menyisakan banyak kisah unik sekaligus miris. Cerita calon anggota legislatif (caleg) yang tidak menunjukkan perolehan suara signifikan menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Ada yang unik, lucu, bahkan menyedihkan. Di antara mereka malah ada yang memilih jalan pintas, bunuh diri karena malu perolehan suaranya jauh di bawah estimasi semula.


Hingga saat ini sudah tak terhitung lagi kasus caleg mengalami depresi karena terciumnya kekalahan dari sebuah ambisi tak berbatas. Tingkah laku mereka bermacam-macam. Ada yang linglung, ada yang mengamuk, meminta kembali sarung bantuannya, atau meminta tim sukses mengembalikan biaya selama kampanye, mengusir penduduk yang menempati tanahnya karena kebetulan dia adalah tuan tanah.

Tiba-tiba seorang caleg menyegel sebuah sekolah karena merasa dikhianati, tak seorang pun dari mereka yang bekerja di sekolah itu memilihnya, padahal sang caleg merupakan perintis pembangunan sekolah tersebut, dst.

Pertarungan senantiasa menghasilkan dua kemungkinan; kalah dan menang. Sehingga menjadi tak elok bila setelah pesta demokrasi lima tahunan itu digelar, para pesertanya malah tidak siap pada dua kemungkinan itu. Pendirian klasik kerap ditemui, hanya siap menang tapi tak siap kalah. Biaya tinggi selama sosialisasi dan kampanye selalu menjadi alasan mengapa seseorang tidak siap kalah. Padahal baiaya-biaya itu adalah harga yang harus dikorbankan.

Namun, sebagian kecil saja di antara mereka yang menganggapnya lumrah. Biaya besar tersebut apapun alasannya harus kembali, atau paling tidak mendatangkan kemenangan, sementara biaya besar tidaklah berbanding lurus dengan kemenangan.

Saat ini perhitungan manual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih berlangsung. Meski sudah ada kepastian kemenangan partai versi lembaga penghitung cepat, versi KPU tetap saja dinanti, karena versi inilah menjadi dasar resmi satu-satunya dari seluruh keputusan menang-kalah itu. Di tangan KPU dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), para petarung menggantungkan nasib. Pasalnya, bila panitia melakukan kesalahan penghitungan, disengaja atau tidak, maka seorang caleg akan bernasib lain.

Hari-hari menegangkan sesungguhnya terjadi bukan pada saat kampanye, melainkan beberapa hari setelah pemberian suara oleh rakyat. Karena itu, bila hingga hari ini kita masih menemukan atau mendengar tingkah laku aneh para caleg, maka hal itu menjadi lumrah. Sebab, hari-hari itu merupakan hari-hari yang panjang dan melelahkan.

Terasa panjang karena menanti sebuah kepastian yang justru mengaduk-aduk perasaan; cukup atau tidak perolehan suara partainya untuk harga sebuah kursi. Kalaupun cukup, apakah kursi itu untuk dia atau justru buat kader lain separtai. Melelahkan memang.(^^)

Share this article :

5 comments:

  1. klo ngomongin para caleg yg suaranya minim sih harus berlomba-lomba u/ menata hatinya, spy tidak down. Karena mental para caleg kita sangat lemah sekali. mrk siap menang tp tdk siap kalah.

    BalasHapus
  2. Sob ada awards buat ke dua blog kamu diambil yah disini ngambilnya

    BalasHapus
  3. yah, beginilah gambaran anggota legislatif di Indonesia

    BalasHapus
  4. aneh memang... ini karena sistem demokrasi negara kita yang masih fulus oriented untuk sekedar menjalankan rodanya atau memang budaya kita kadung terkunci semua bisa dibeli dengan uang

    BalasHapus
  5. bakal banyak caleg yang stress nih bang iwan, bahkan sudah ada yang stress dan bunuh diri.

    BalasHapus

loading...

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : FATAMORGANA
Copyright © 2015. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger