Home » , , » Dunia Maya Vs Dunia Nyata Dalam Kehidupan Anak

Dunia Maya Vs Dunia Nyata Dalam Kehidupan Anak

Written By Muhammad Yuliawan on Selasa, Januari 18, 2011 | 1/18/2011

Teknologi informasi dalam bentuk internet yang semakin berkembang, dan tentunya tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut tentunya mengandung sisi negatif dan sisi positif buat orang dewasa, terlebih lagi buat anak-anak. Sisi positifnya misalnya banyak informasi yang bisa mereka dapatkan di internet yang berguna bagi tugas-tugas sekolah mereka, atau mereka juga jadi terbiasa menggunakan bahasa Inggris yang memang menjadi bahasa komputer dan internet secara umum.

Belakangan yang semakin mengkhawatirkan adalah semakin merebaknya situs porno dan jejaring sosial. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun kini akrab dengan jejaring sosial di dunia maya. Mereka asyik meluaskan pergaulan di sana hingga acap lupa dengan dunia nyata. Peran orangtualah untuk mencegah anak hanya aktif di dunia maya.

Keri, murid kelas 4 SD di Wilayah Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan, telah kenal internet sejak kelas 3 SD. Ayah dan Kakaknya yang memang aktif di dunia maya memperkenalkan teknologi itu pada Keri. Sekarang Keri yang sudah berusia 9 tahun itu aktif di jejaring sosial facebook dan menjalin pertemanan dengan teman-teman sebaya lainnya di dunia maya. Dengan memalsukan tahun lahirnya tentu, mengingat situs ini sesungguhnya mensyaratkan usia 17 tahun untuk mendaftar. Repotnya, kalau sudah asyik, Keri bisa berjam-jam duduk di depan komputer dan tak sempat lagi bermain bersama teman-teman di sekitar rumahnya.

Tentunya kasus diatas bukan cuman terjadi disini. Aktif di jejaring sosial juga membuat anak bebas berekspresi dan berbagi cerita dengan teman-temannya dari berbagai tempat di dunia. Banyak teman baru yang dia dapatkan dengan hanya duduk di depan komputer. Wawasan mereka pun bertambah luas.

Sementara sisi negatifnya antara lain anak-anak mudah mengakses situs-situs yang tidak baik dan dapat merusak mereka, misalnya situs-situs berisi kekerasan, antisosial atau malah porno. Atau internet juga bisa menyebabkan anak hanya asyik di depan komputer dan mengabaikan aktivitas bersosial dengan teman sebaya di lingkungan sendiri.

Melindungi anak dari terpaan negatif teknologi membuat sebagian orangtua menghalangi anak mengakses internet sama sekali. Namun tindakan untuk menghalangi anak mengakses internet plus jejaring sosial yang ada saat ini, seperti facebook atau yang terbaru twitter, tidaklah bijaksana. “Kita tidak bisa menolak dari perkembangan yang ada saat ini. Harus kita akui, ada manfaat yang bisa kita ambil dari perkembangan ini. Hingga mau tak mau kita harus mempersiapkan anak menghadapi perkembangan zaman ini.”

Yang utama dilakukan orangtua adalah menjelaskan pada anak tentang sisi positif dan sisi negatif teknologi tersebut. Dengan bekal ini anak setahap demi setahap dikenalkan pada teknologi informasi ini.

Adalah lebih bijaksana bila orangtua yang mengenalkan perkembangan terbaru ini, apalagi bila di rumah sudah tersedia fasilitas internet. Kalau pun tak diajarkan di rumah karena orangtua tak mau mengajarkannya, mereka bisa mengaksesnya di tempat lain, misalnya di warnet. Ini tentu lebih mengkhawatirkan lagi karena di luar pengawasan orangtua. “Kadang sebelum kita kasih tahu, mereka sudah lebih dulu tahu. Mungkin dari teman-temannya.”

Bila memang orangtua sendiri tak memahami teknologi ini, maka tak ada ruginya bagi orangtua untuk mempelajari hal ini dari berbagai sumber yang ada. Idealnya, orangtua memahami lebih dulu teknologi ini dibanding anak-anak. Bagaimana orangtua bisa mengarahkan anak misalnya tentang situs mana yang boleh dibuka dan situs mana yang tidak boleh dibuka atau bagaimana memblokir situs porno bila orangtua tak dapat mengoperasikan komputer, apalagi mengakses internet? Namun, bila anak sudah tahu lebih dulu dari orangtua, jangan malu untuk minta diajari oleh anak.

Lalu yang tak boleh diabaikan orangtua adalah kontrol atau pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia maya tersebut. “Kepentingan orangtua di situ adalah untuk melihat siapa teman-teman dia di sana dan bagaimana mereka. Bahkan memilihkan teman yang baik buat anak pun berlaku juga di dunia maya. Bagaimana anak bisa menjadi baik bila teman-temannya tidak baik.”

Tindakan ini, dimaksudkan bukan untuk mengganggu privasi anak. Karena dalam prosesnya di sana orangtua hanya memonitor saja dan memberi masukan-masukan pada anak. Tentu saja proses ini hanya bisa terjadi setelah sebelumnya memang telah tercipta keterbukaan dalam keluarga.


Share this article :

10 comments:

  1. Masya Allahu Kana Wa Ma lam yasya' lam yakun

    BalasHapus
  2. sebagai orang tua harus selalu mendampingi dan mengawasi anak dan mengajari mereka tanggung jawab

    BalasHapus
  3. saya yakin orang tua kery bisa membatasi serta mengawasi

    BalasHapus
  4. (Maaf) izin mengamankan KEEMPAX dulu. Boleh, kan?!
    Teknologi IT, termasuk internet. memang perlu dikenalkan kepada anak dengan satu syarat; pengawasan dan pendampingan hrus dilakukan juga.

    BalasHapus
  5. kalau nggak di awasi penggunaannya emang bhaya....

    BalasHapus
  6. hai :)
    how are you guys out there?
    maaf baru sempat BW..

    BalasHapus
  7. Perkembangan teknologi menjadi tantangan bagi kita sebagai orang tua untuk bijaksana dan menjaga si buah hati.

    BalasHapus
  8. Kini telah banyak orang tua yang turut menjadi 'friend' anaknya di jejaring sosial. Namun karena mudahnya mendaftar pada sebuah situs, kita jadi tidak tahu berapa banyak akun yang dimiliki anak :(

    BalasHapus
  9. salam kenal mas, kunjungan perdana

    BalasHapus
  10. walah saya baru saja mau mengajari anak saya yang masih 3 tahun bermain komputer, perlu pengawasan ekstra nih

    BalasHapus

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : FATAMORGANA
Copyright © 2015. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger