Home » , , » Puasa Melahirkan Kesadaran Baru

Puasa Melahirkan Kesadaran Baru

Written By Muhammad Yuliawan on Senin, September 06, 2010 | 9/06/2010



Ini sebuah cerita pengalaman puasa dari seorang sahabat. Tapi dia mengutarakannya bukan dalam istilah lazim “agama”. Dia tidak menggunakan istilah berkah, rahmat, ampunan, pahala dan sebagainya.

Katanya, puasa itu berat tapi asyik. Beratnya, bagi dia, bukan karena menahan lapar atau haus. Juga bukan berat karena menahan diri dari hubungan suami istri pada siang hari (he… he… di luar bulan puasa pun dia tidak pernah lakukan itu, katanya).

Yang berat, katanya, mengubah kebiasaan waktu makan dan minum. Dia punya kebiasaan, buka mata buka mulut. Artinya, begitu bangun pagi dia langsung sarapan, misalnya naskun (nasi kuning), nasgor (nasi goreng) atau naspur (nasi campur).

Setelah sarapan, dia lalu menyeruput kopi panas yang masih mengepul-ngepul. Dia tambah lagi dengan sebuah kebiasaan buruk, merokok. Jadinya, gelas kopinya berasap mulutnya berasap. Katanya, itulah yang paling nikmat dia rasakan, dan itulah kebiasaan yang berat dia ubah.

Ngopi dan merokok sudah jadi “ritualnya” setiap pagi. Karena itu setiap pagi di bulan puasa, dia selalu membayangkan nikmatnya menyeruput kopi panas itu. Apalagi sebelumnya, saat dia makan, dia kepedasan. Kopi diseruputnya masih mengepul, bukan dari cangkir tapi dia tuang dulu ke piring kecil.

Lalu dia bayangkan lagi nikmatnya hisapan nikotinnya. Katanya enak sekali. Selain dia merasa nyaman dengan kebiasaannya itu, dia juga merasa aman. Dia percaya, bahwa bahaya rokok bisa dieliminasi oleh kopi atau sebaliknya. Entah siapa yang mengajari dia pengetahuan keliru itu.

Jadi bagi orang itu yang berat dari puasa bukanlah lapar dan haus tapi mengubah kebiasaan nyeruput kopi.

Dia merasa loyo, justru diwaktu masih pagi, bukan karena lapar, tapi akibat berubahnya kebiasaannya.

Pada sepuluh hari pertama di setiap pagi Ramadan, dia merasa amat berat. Seolah-olah ada sesuatu yang tercabut dari dirinya. Sedikit lagi naik tingkatannya, mungkin seperti pecandu narkoba yang lagi sakau.

Kebiasaan, apalagi dirasakan nikmat, walaupun itu buruk, memang amat sukar diubah. Kebiasaan menciptakan kepada seseorang semacam comfort zone yang enggan dia tinggalkan.

Pada tingkatan yang serius, sebuah kebiasaan yang mengasyikkan telah menjadi semacam “tuhan” bagi seseorang. Kebiasaan itu lalu memperbudaknya. Kebiasaan itu membuatnya tidak bisa tidur jika belum dia lakukan.

Kebiasaan itu yang mengatur hidupnya dan memerintah dia apa yang harus dia lakukan atau tidak lakukan. Bahkan orang bisa demikian taat kepada suatu kebiasaan kendatipun melabrak ketaatannya kepada Tuhan yang sesungguhnya.

Tapi, orang itu akhirnya gembira juga. Setelah melalui masa-masa yang berat, ia memasuki yang disebutnya phase asyik, yaitu kebahagiaan hati setiap kali jelang magrib, menjelang buka.

Bahkan ia terharu. Ia yang tadinya merasa telah menjadi tawanan sebuah kebiasaan, sekadar segelas kopi panas dan sebatang rokok, berhasil melepaskan diri.

Yang dia rasakan kini betapa indahnya dan betapa bahagianya menaati Allah, Tuhan yang sesungguhnya, ketimbang menaati “tuhan kebiasaan” yang telah diciptakannya sendiri lalu memperbudaknya.

Dia menutup puasanya di bulan Ramadan dengan sebuah kesadaran baru. Dia tidak hapal bagaimana bahasa agamanya, tapi menurutnya begitulah seyogianya hasil puasa bagi seseorang, yaitu lahirnya sebuah kesadaran baru dalam dirinya.

Kesadaran melepaskan diri dari tuhan-tuhan selain Tuhan yang sejati, Allah swt.


Share this article :

12 comments:

  1. sayang sekali, ramadan sudah hampir habis, rasanya masih kurang sekali ibadah saya, semoga tahun depan dapat dipertemukan dengan Ramadhan kembali, amiennn

    BalasHapus
  2. Dalam ibadah Ramadhan kita harus menahan segala sesuatu yang membatalkan puasa termasuk kebiasaan diri. Sebenarnya itu merupakan latihan untuk bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan, semoga pada bulan selain bulan Ramadhan kita juga bisa menahan diri kita ke yang lebih baik lagi.

    BalasHapus
  3. Betul mas, itulah gunanya puasa. Agar kita makin melepaskan ketergantungan 'daging' kita, dan lebih banyak memfokuskan diri ke hal-hal yang rohani. Dalam banyak hal, sebenarnya pikiran itu lebih berkuasa dari tubuh itu sendiri ya. Teman yg diceritakan di posting ini lebih menderita karena tidak bisa melakukan kebiasannya daripada rasa lapar/haus itu sendiri

    BalasHapus
  4. inilah kelemahan aku puasa kok badan malah tambah lebar

    BalasHapus
  5. Semoga Puasa kita bisa melahirkan kesadaran baru...

    BalasHapus
  6. benar juga pak...
    tapi sayang, supaya benar2 mantap tambah lagi puasa syawal..
    supaya mendekat jadi 40 hari..
    karena biasanya pkerjaan dapat menjadi kebiasaan jika telah dkerjakan berturut2 selama 40 hari

    BalasHapus
  7. nasi kuning bagi daerah kami sangat diminati lho bang iwan
    semoga puasa tahun ini membawa kita untuk lebih saling menghargai

    BalasHapus
  8. dengan puasa paling tidak kita bisa merasakan seperti apa lapar yang dirasakan banyak orang disana yang masih lapar

    salam dari pamekasan madura

    BalasHapus
  9. kemapanan seseorang pada suatu nikmat duniawi menghilangkan keinginan untuk mendapatkan nikat surgawi.
    aturan dan perintah Allah itu sangatlah nikmat.

    BalasHapus
  10. Menciptakan kebiasaan yang akhirnya menjadi rutinitas memang sangat membahayakan. Tapi salut buat temen mbak, yang akhirnya bisa memerdekakan diri dari jajahan kebiasaan buruk yang diciptakannya sendiri.

    BalasHapus
  11. setuju pak!
    dibulan ramadan, tidak hanya melatih untuk menahan nafsu makan dan minum saja, melainkan, harus memulai sebuah lembaran perjalanan baru, dimana yang buruk ditinggalkan, serta memupuk kebiasaan yang bermanfaat.

    BalasHapus
  12. mudah-mudahan puasa gwe diterima Allah, tidak banyak..sedikit masih bisa beri kesedaran buat gwe :(

    BalasHapus

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : FATAMORGANA
Copyright © 2015. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger