SI ANAK KAMPOENG

Written By Muhammad Yuliawan on Jumat, April 15, 2011 | 4/15/2011



Si Anak Kampoeng
- diangkat dari kisah perjalanan hidup Buya Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, seperti terangkum dalam buku otobiografi `Titik-titik Kisar di Perjalananku` (2006-2009).

Meskipun film ini ibarat otobiografi Buya Syafii Maarif dalam versi digital, namun gagasannya datang dari Damien Dematra, penulis novel dan sutradara muda.

"Yang menarik, Damien terinspirasi untuk membuat film ini tidak lama setelah ia berjumpa dengan Buya Syafii atas rekomendasi Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid)," kata
Direktur Eksekutif Maarif Institute,Fajar Riza.

Fajar mengungkapkan, pada mulanya Buya Syafii keberatan dengan ide itu, dan meminta Damien menyampaikan gagasannya itu kepada Maarif Institute.

"Kami cukup lama mendiskusikannya sebelum akhirnya memutuskan untuk membantu merealisasikan gagasan pembuatan film `Si Anak Kampoeng`", katanya.

Fajar mengharapkan film-film semacam ini menjadi tonggak baru dalam konteks inovasi media dakwah kultural Muhammadiyah di era abad ke-2 organisasi Islam itu.

"Kehadiran film ini diharapkan menjadi kado bagi peristiwa bersejarah Satu Abad Muhammadiyah, karena dari sisi kebiasaan, mengangkat kisah tokoh Muhammadiyah ke layar lebar merupakan suatu hal yang tidak lazim, termasuk novelisasi dengan terbitnya novel `Si Anak Kampoeng` yang diadaptasi dari skenario film ini," katanya.

Fajar meyakini ranah-ranah pop seperti ini harus mulai dipertimbangkan dalam strategi dakwah di kalangan ormas Islam.

Sang sutradara, Damien Dematra, mengatakan, film ini mengambil seting Tanah Minangkabau, Padang, Sumatra Barat, dan Yogyakarta. Dua daerah ini adalah kota bersejarah bagi gerakan Muhammadiyah.

"Yogyakarta merupakan kota terpenting dalam perjalanan hidup seorang Syafii Maarif, karena dari seorang perantau biasa yang menuntut ilmu di perguruan Muhammadiyah, Mu`alimin, hingga menjadi pemimpin tertinggi organisasi Muhammadiyah," katanya.

Bahkan, katanya, Syafii Maarif kini didaulat oleh banyak pihak sebagai guru bangsa yang diakui integritasnya.

Syuting film ini mengambil beberapa tempat di Yogyakarta yang memiliki ikatan sejarah dan emosional dengan Syafii Maarif, seperti kantor sekretariat PP Muhammadiyah, gedung Mu`alimin, dan Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul.

"Buya Syafii sering mengilustrasikan keberuntungan perjalanan hidupnya, karena semata-mata terdampar ke tepian ombak, karena belas kasihan dari ombak. Jadi, simbolisasi Buya dan pantai tidak terpisahkan dalam skenario film ini," demikian Damien
.



Sinopsis Film Si Anak Kampoeng

Syafii, sang mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah 1998-2000 dan 2000-2005, sejarawan, dan pejuang pluralisme di Indonesia, duduk di rumahnya, meneropong jauh dalam hidupnya, sampai tahun 1944. Saat itu, ia adalah seorang anak kampoeng di Nagari Sumpur Kudus, Sumatera Barat, yang hanya mengenal bagaimana cara belajar, mengadu ayam dan sapi, memancing, menyambit rumput, dan menembak.

Bersama Zainal, sepupunya, Makdiah, si suka berantem, Husin, sang penakut, dan Julai, si melankolik, Syafii mengarungi masa-masa di Sekolah Rakjat Sumpur Kudus dalam tawa bebas dan sumgringah nakal anak-anak.

Syafii kehilangan ibu kandungnya sewaktu ia masih bayi-sebuah kematian yang membuat sang ayah, Ma'rifah Rauf, seorang terpandang di kampungnya, sangat terpukul. Syafii kemudian dititipkan pada paman dan bibi yang mengasuhnya seperti anak mereka, dan juga memperhatikan perkembangan keimanan Syafii, sehingga ia kemudian bersekolah di Madrasah dan rajin mengaji.

Sekalipun ayahnya, Ma'rifah, kemudian melakukan poligami, hubungan ayah dan anak itu tetap erat, dan mereka suka bepergian bersama.

Tiada kebahagiaan tanpa penderitaan. Kematian melanda keluarganya, dan perang revolusi kemudian mengoyakkan kehidupan keluarga Ma'rifah. Ditambah lagi, salah satu rumah mereka terbakar hangus. Namun, setelah perang selesai, sang ayah, yang melihat kemampuan anaknya yang cemerlang, tetap berusaha menyekolahkannya ke sebuah madrasah yang terkenal di Lintau.

Setelah Syafii lulus dan menginjak masa dewasa, ia diperhadapkan pada sebuah persimpangan besar, sebuah titik kisar kehidupan, yang akan merubah seluruh jalan hidupnya secara drastis-tinggal di desa yang dicintainya, atau merantau ke tanah Jawa untuk meneruskan sekolah agama--sebuah pilihan yang tidak didukung oleh Ma'rifah, sang ayah.

Saat sebuah keputusan kemudian dijatuhkan dan hati ditetapkan, berbagai kekecewaan melanda dan hampir mengubah jalan hidup Syafii. Setelah itu, seakan-akan alam masih ingin menempa kekuatannya, sebuah perpisahan terakhir dari orang yang sangat dicintainya kembali menoreh hatinya.

Di tengah kerinduan akan bundanya yang telah pergi selamanya, Syafii harus berhadapan dengan banyak kendala yang terlalu besar untuk dirinya, sehingga sebuah pertanyaan pun timbul: Terlalu mahalkah harga untuk mengejar mimpinya? Dan apakah akhirnya kehidupan bermurah hati pada mereka yang terus berusaha menggapai mimpi?

Akankah segala kegetiran kemudian mempengaruhi dirinya dan membuatnya menjadi seorang yang pahit, ataukah ia akan tetap tabah, dan menjalani tapak-tapak kehidupan berbatu?


Trailer Film Si Anak Kampoeng




DAPATKAN iPad 2 GRATIS DARIPhotobucket
Share this article :

1 comments:

  1. Ide pembuatan film "Si Anak Kampoeng" ini sangat baik. Menjadi tauladan bagi putra-putri negeri ini. Tak diragukan lagi proses getir yg sangat menginspirasi dari kisah "Pi'i" kecil yg lahir dan tumbuh kembang dr Desa Sumpur Kudus Sumbar.

    Saya sudah lihat film tsb, krn jujur saya sangat menghargai Buya Syafii Maarif sbg tokoh bangsa sejajar dengan Gusdur, Cak Nur maupun tokoh2 bangsa berpekerti mulia yg lain.

    Hanya saja, secara tuntutan teknologi cinematografi,sepertinya sutradara dan tim harus memperhatikan kualitas scr teknis. Mohon maaf, kualitas teknis film tsb sangat jauh dari beberapa film Indonesia 10tahun belakangan ini. Seoalah2 sangat tdk memperhatikan hal2 teknis yg standar dilakukan dlm pembuatan sebuah film.

    Saya sekali momentum ini menjadi terkesan, hanya memburu momentum 1 abad Muhammadyah, dengan mengiringi kesuksesan film tokoh pendiri Muhammadyah sblmnya "Sang Pencerah" yg dibuat dgn serius dan hasilnya sangat baik.

    Mohon kiranya,jika ini direncanakan menjadi sbh Trilogi konsep..mohon dengan sangat memperhatikan kualitas atau mulai berfikir menempatkan tim kreatif yg tepat dalam proses selanjutnya.

    Terimakasih. Salam Hormat.

    Ari
    @gusriebowo (twitter, email: aaribowo2009@gmail.com

    BalasHapus

loading...

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : FATAMORGANA
Copyright © 2015. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger