Home » , » Komik Ketika Nurani Bicara | Upaya menekan Radikalisme

Komik Ketika Nurani Bicara | Upaya menekan Radikalisme

Written By Muhammad Yuliawan on Selasa, September 28, 2010 | 9/28/2010

Berbagai macam cara telah dilakukan untuk meniadakan atau setidaknya melembutkan radikalisme Islam dan menangkal propaganda teror dari mereka yang memanipulasi agama untuk memaksakan kehendaknya. Salah satunya adalah seperti yang ditempuh LSM Lazuardi Birru, menerbitkan komik berjudul “Ketika Nurani Bicara.”

Cerita bergambar setebal 130 halaman ini diangkat dari keprihatinan atas peristiwa teror bom di Bali, lazim dikenal dengan Bom Bali I, pada 12 oktober 2002.


Untuk sampai menjadi sebuah komik menarik ini, tim Lazuardi Birru mengadakan riset selama dua tahun dan mewawancarai tiga figur yang kemudian menjadi tokoh dalam komik tersebut. Ketiganya adalah Ali Imron (pelaku Bom Bali), H. Bambang Priyanto (relawan) dan Hayati Eka laksmi (istri salah seorang korban meninggal Bom Bali).

Tidak cukup dengan itu tim juga menggelar observasi ke beberapa daerah yang dianggap penting, seperti Lamongan, Gresik, Surabaya, Bali dan tentu saja ke penjara di mana para radikal pelaku teror dibui.

Setelah itu mereka menyusun karakter tokoh dalam cerita, termasuk karakter cerita itu sendiri. Menurut Lazuardi Birru, komik ini berupaya memberi gambaran kepada generasi muda, bahwa terorisme memberikan luka dan prahara kepada negara.

Mereka juga ingin berpesan kepada anak-anak bangsa untuk senantiass mawas diri dan berlindung dari ideologi-ideologi teror yang terus saja mengendap-endap membidik anak-anak negeri ini.

Salah satu yang menarik dari komik ini adalah pesan perdamaian yang terungkap dari hati nurani pelaku teror bom sendiri, Ali Imron.

Ali Imron ternyata menyesali perbuatannya. Dia bahkan bersimpati pada keluarga-keluarga korban dan relawan yang turun para korban teror Bom Bali I.

Cerita diawali dari pengenalan para tokohnya di halaman pertama; Ali imron (Ale), Haji Bambang dan Hayati Eka Laksmi (Hayati). Di bagian ini terselip pula ilustrasi Jalan Legian di Kuta pada 12 oktober 2002 dan lokasi pemboman, Sari Club dan Paddys kafe.

Cerita dan ilustrasi gambarnya sangat berkronologi sehingga mudah untuk diikuti penikmatunya, karena selain gambar yang sepenuhnya berwarna dan menarik, juga dilengkapi rangkaian teks yang menjelaskan situasi atau gambar yang ditampilkan.

Dalam komik itu, Ali Imron bertutur mengenai keterlibatannya dalam gerakan terorisme dan serangan bom, keraguannya dalam melakukan teror, dan akhirnya berbuah penyesalan tiada akhir darinya.

Sementara Bambang Priyanto mengungkapkan kepedulian para relawan dalam menolong korban tanpa memandang agama. Terkhir, Hayati, ibu dua anak, bercerita tentang perjuangan hidup dan kegigihannya untuk bangkit menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran suami yang meninggal karena Bom Bali I.

Ketiga tokoh utama komik ini mengungkapkan nuraninya untuk disampaikan kepada generasi muda demi Indonesia damai.

Yang paling dari komik ini adalah pengakuan pelaku tero bom, Ali Imron, bahwa dia telah salah menafsirkan seruan agama dan mengaku bersalah telah membunuhi orang-orang yang tak berdosa, sekaligus mewariskan nestapa kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan korban bom.

Dari rekaman video yang dibuat tim Lazuardi birru, Ale atau Ali Imron, mengutarakan tiga pesan penting dari lima pesannya dari penjara mengenai jihad dan nuraninya yang menentang teror, dan kekerasan.

Pesan pertama berbunyi, “Saya harap keinginan saya bisa sampai ke masyarakat, untuk mencegah kekerasan.”

Kedua, masih dalam tuturan langsung Ali, “Semoga komik ini bisa mengingatkan kawan-kawan di kelompok saya dulu bahwa masih banyak cara untuk melakukan jihad. Agar mereka berpikir bahwa jihad bisa dilakukan tanpa harus melakukan aksi kekerasan.”

Lalu pesan ketiga, yang ada baiknya dieksploitasi negara untuk meredam terorisme dan radikalisme, bahwa (komik) ini bertujuan memberitahukan sedini mungkin (kepada generasi muda) agar tidak cepat terpengaruh pihak tertentu, hanya karena dasar emosional semata.

Dyah Madya Ruth, Ketua LSM Lazuardi Birru, menyebut komik ini sebagai esensi jihad, yang dipahami berbeda para penafsirnya.

Komik ini sendiri mengilustrasikan setidaknya empat pemahaman jihad yang diaplikasikan berbeda oleh orang-orang yang justru berkeyakinan sama, Islam.

Yaitu antara jihad ala Ali Imron yang melakukan aksi teror, lalu jihad kedua Ali yang berusaha menata dirinya kembali yang diprologi oleh pengakuan bersalahnya atas aksi teror yang dilakukannya.

Kemudian jihad gaya ‘Pak Haji Bambang yang membantu korban Bom Bali tanpa mengenal batas ras dan agama.

Terakhir, jihad Ibu Hayati yang balik sediakala menjadi tulang punggung keluarga setelah nyawa suami terenggut teror bom.

Photobucket




Pada cetakan pertama, novel grafis “Ketika Nurani Bicara” telah dicetak sejumlah 10.000 eksemplar. Sejumlah 8.000 eksemplar diantaranya dibagikan secara cuma-cuma ke 2.000 lokasi yang meliputi mesjid, pesantren, SMA/SMK, kampus, universitas serta perpustakaan di 33 provinsi. Sejumlah 2.000 eksemplar akan didistribusikan melalui toko buku. Novel grafis ini juga akan dibuat dalam format e-book dalam bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, Arab dan Melayu.

Bagi sahabat yang berminat mendownload E-book Komik Ketika Nurani Bicara silahkan membaca petunjuk langsungnya di situs http://www.lazuardibirru.org/


Source :
http://www.lazuardibirru.org/
http://optimisindonesia.net/


Share this article :

17 comments:

  1. Sebuah film bermutu yang patut ditonton oleh semua orang. Resensi mantap, pak.

    BalasHapus
  2. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Komiknya menarik juga. Keknya saya musti ikutan mnedownload, ki

    BalasHapus
  3. komik yang menarik... langsung ke tkp Bang !!

    BalasHapus
  4. cerita yang menarik dan penuh pembelajaran
    bukan anak yang harus waspada, sebagai seorang yang sudah lebih dewasa harus lebih mawas diri

    salam dari pamekasan madura

    BalasHapus
  5. waduh komik indonesia.........saya ndak begitu suka ceritanya tapi suka ma ilustrasi gambarnya.....seni nya sangat tinggi bang :)

    BalasHapus
  6. menarik sekali, saya juga yakin ada jalan lain untuk memperjuangkan islam agar bisa tegak bukan dengan jalan kekerasan

    BalasHapus
  7. ha?komix lg..hehe..tp sayangnya aq ga terlalu suka komik bang iwan..mending komiknya difilmkan baru seru tu

    BalasHapus
  8. Saya mau komiknya ... siswa kami pasti menyukainya. Bisa untuk menambah koleksi komik kami di perpustakaan sekolah, upaya meningkatkan minat baca siswa.

    Salam dari pinggir sungai Brantas.

    BalasHapus
  9. Komiknya dah nyebar d psran y? jd penen baca...
    eh, salam knal y bang. skalian ane follow..

    BalasHapus
  10. kayaknya komiknya bagus juga

    BalasHapus
  11. hahaha
    keren
    nah, daripada ngeluarin pilm gk jelas, mending kek gini


    salm human. hahaha

    BalasHapus
  12. Tentang Jihad ya kang,terima kasih deh semoga penjualannya sampai di kota sempit kayak yang kota yang saya diami ini.

    BalasHapus
  13. Komik yang sangat bagus dan menarik untuk dibaca. Diambil dari kisah nyata. Semoga niat baik Lazuardi Birru diridhoi Allah SWT.

    BalasHapus

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : FATAMORGANA
Copyright © 2015. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger