Home » , , » Fenomena Mudik Lebaran

Fenomena Mudik Lebaran

Written By Muhammad Yuliawan on Selasa, Agustus 14, 2012 | 8/14/2012

Mudik menjadi fenomena yang jarang ditemui di negeri lain kecuali Indonesia. Mudik atau kembali ke udik (kampung) tidak lagi menjadi sekadar tradisi, tapi mudik juga sebagai fenomena pergerakan dan mobilitas manusia Indonesia dalam kurun waktu singkat dan dalam sebuah gelombang yang luar biasa besar.

Angka-angka berikut membuktikan bahwa MUDIK menjadi fenomena unik dan menarik dari sebuah tradisi yang awalnya hanya berkutat pada masalah kefitrahan diri menjadi sebuah budaya mobilitas massal yang sangat masif dan konsumtif. Mulanya hanyalah menjaga silaturahmi dan keberkahan di antara kerabat, sahabat maupun orang-orang terdekat, berubah menjadi gelombang kehidupan yang mampu mempengaruhi tatanan ekonomi negara. Semua karena tradisi MUDIK!

SEKITAR 10 persen dari jumlah penduduk negeri ini (230.000.000 jiwa), atau sekitar 23 juta orang, melakukan mobilisasi secara bersamaan di saat MUDIK Lebaran. Dan setiap tahunnya, jumlahnya terus mengalami lonjakan.

Sekitar Rp 20 triliun uang kiriman yang masuk dari kantong-kantong tenaga kerja di luar negeri. Sekitar Rp 200an triliun uang beredar dan ditransaksikan pada saat mobilisasi mudik tersebut. Menjelang Lebaran, lalu lintas (traffic) ucapan selamat Lebaran mencapai 1,5 miliar SMS per hari. Sebanyak 1200 kecelakaan terjadi, dengan 260 jiwa mati sia-sia...

Luar biasa kesibukan menjelang lebaran. Ada yang sibuk bikin kue, ada yang sibuk antri pesan tiket pulang kampung, ada pula yang pergi ke mall beli baju dan sepatu baru, hingga mall dan pusat perbelanjaan padat manusia sementara masjid kosong melompong nyaris tak berpenghuni. Biasanya, awal Ramadhan Masjid penuh. Kini, di sepuluh hari terakhir, shalat tarawih hanya menyisakan beberapa shaf saja, itupun kebanyakan yang sudah berumur.

Stasiun, terminal dan bandara menjadi lautan manusia. Jalan macet dan angka kecelakaan meningkat tajam. Situasi seperti itu sudah menjadi hal yang biasa menjelang lebaran. Mudik, ya....... tradisi yang sudah begitu melekat. Seolah-olah tanpa mudik lebaran tak bermakna.

Sedihnya lagi, kebanyakan diantara yang mudik lebaran atau yang sibuk dengan baju baru dan kue lebaran justru melalaikan puasanya. Naudzubilahi min dzalik...... Puasa yang sedianya 29 hari atau maksimal 30 hari itu hanya bersisa hitungan jari.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Satu kebajikan dibalas sepuluh kali lipat. Allah SWT menurunkan rahmat, menghapus dosa dan mengabulkan do’a. Allah SWT juga membangga-banggakan orang yang berpuasa kepada para malaikat-Nya. Namun tidak sedikit orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah SWT pada bulan ini

Sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan yang didalamnya terdapat malam kemuliaan, yang lebih mulia dari seribu bulan berlalu tanpa kesan. Sedangkan kebanyakan diantara kita menyibukkan diri dengan mudik, baju baru dan kue lebaran. Uang, mungkin jutaan rupiah kita rogoh untuk bertemu sanak famili di kampung sementara malam kemuliaan berlalu begitu saja. Seakan malam kemuliaan itu tidak penting dan bukanlah sesuatu yang dinanti-nanti, sebaliknya yang menjadi penantian justru mudik, baju baru dan kue lebaran.

Akankah malam kemuliaan itu pergi tanpa kesan?. Manakah yang lebih penting mudik untuk bertemu sanak keluarga dan bermaaf-maafan yang dapat kita lakukan tidak hanya saat lebaran dibandingkan dengan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan yang umur kita saja belum tentu bisa menggapainya?

Tradisi mudik, baju baru dan kue lebaran perlu menjadi bahan perenungan kita untuk ditinjau kembali. Kalaupun kita berbuat salah kepada orang tua atau kerabat lainnya, bukankah kita bisa minta maaf saat kita berbuat salah ketimbang kita tidak mendapatkan malam kemuliaan itu. Apakah kita menganggap mudik lebih penting dari malam kemuliaan?. Semoga saja tidak.




Denaihati
Share this article :

27 comments:

  1. ya ampuuuuunnn... jadi males nih buat mudik.

    BalasHapus
  2. tradisi yang sudah begitu melekat. Seolah-olah tanpa mudik lebaran tak bermakna...pdhal 10 mlam trkhir ramadan ada malam seribu bulan yg menunggu, tpi manusia bnyak yg mnghiraukan, lbih mmilih kpentingan dunia smentara, yng dmna sbnarnya bkan prsiapan lebaranx, tapi bbrapa hari lagi kita akan di tinggalkan bulan yg penuh berkah ini..haha
    great share pak :) sukses slalu

    BalasHapus
  3. Mudik bisa dilaksanakan setelah lebaran, lebih baik kita berusaha mendapatkan lailatul qadar...yang akan menjadi salah satu bekal kita untuk persiapan MUDIK HAKIKI

    BalasHapus
  4. lebaran tanpa mudik kayannya memang ada yang kurang gan ..

    BalasHapus
  5. sayangnnya saya salah satu yang tidak selalu melakukan ritual mudik setiap hari raya . .

    BalasHapus
  6. Memang sepertinya hal tersebut sudah jadi fenomena di Indonesia Bang Iwan.
    Sama saja seperti pada awal-awal Ramadhan masjid mushola penuh sampai membludak. maka di akhir Ramadhan malaham Mall-mal pasar-pasar yang penuh sesak dan masjid paling tingggal beberapa shaf saja....

    BalasHapus
  7. kalau di Malaysia di panggil balik kampung. tentunya teramat sibuk lalu lintas di sana ye

    BalasHapus
  8. setuju pak,,memang fenomena ini tidak bisa i pungkiri lagi,,,saat akhir ramadhan ini justru yang hilir mudik mau belanja tau pulang kampung sengaja gak puasa dengan alsan capek,,,padahal justru itu merugikan sekali

    BalasHapus
  9. busyeeett itu yang mudik,, heum, untunglah saya tinggal di negeri sendiri, heheh

    BalasHapus
  10. Lebaran itu untuk bersilahturahmi dengan orang2 yang pernah bersama kita seperti orang tua,abg ,adik dan saudara.

    BalasHapus
  11. balik kampung juga memang diamalkan dim'sia, cuma di sana cukup ramai sekali penduduknya dan semestinya jalanraya lebih sibuk

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah sya mah tidak mudik..Heheheee





















    BalasHapus
  13. Naudzubillah, untungnya saya tidak terlalu disibukkan dgn hal seperti itu.

    BalasHapus
  14. iya emg bner tuh msuk 10 terakhr ramadhan msjid menjadi kurang penghuninya..:D

    BalasHapus
  15. MAntap infonya, di jaman sekarang kata "MUDIK" bukan hanya untuk orang yang jauh dari tempat asal, tapi orang yang bekerja 500 meter saja jarak dari rumahnya stiap pulang menggunakan kata mudik. dan mudik bukan hanya di hari-hari menjelang lebaran,namun di hari hari biasa juga setiap orang yang kembali ke kampung halaman disebut mudik. dan sangat benar Hanay Di Indonesia. hahaha. salam sukses..

    BalasHapus
  16. di Malaysia dipanggil balik kampung..juga sudah menjadi fenomena setiap kali ada perayaan mesti jalan sibuk dengan kereta kerana semua orang mahu pulang ke desa.

    BalasHapus
  17. Terimakasih atas infonya tentang mudik lebaran, cukup jelas dan detail,

    BalasHapus
  18. mudik sudah terlanjur menjadi tradisi di Indonesia , semoga yg melaksanakan mudik bisa selamat sampai tujuan :)

    BalasHapus
  19. hadeuhh... jd bngung mw blng postif or negatif tntng lbran..

    BalasHapus
  20. tak lama lagi bakal idul fitri nih..

    BalasHapus
  21. memang sudah menjadi tradisi klo lebaran itu harus mudik, kadang kadang mereka mudik dengan motor tanpa mempedulikan keselamatan, mereka kebanyakan beranggapan yang penting cepet sampai padahal selain cepet mereka harus mementingkan keselamatannya atau orang lain .

    BalasHapus
  22. salam kenal
    Importir Langsung Jersey Bola Grade Ori Kulitas Terbaik dan Termurah
    mampir yuk di www.bandarjersey.com

    BalasHapus
  23. info yang bermanfaat sekali walau telat kunjungan nya,, he ikut nyimak aja ya gan

    BalasHapus


KOMENTAR ANDA SANGAT KAMI HARAPKAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI

MOHON MAAF, KOMENTAR YANG MENGANDUNG LINK TERPAKSA SAYA HAPUS.

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : METROLISA
Copyright © 2013. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger