Home » » WS RENDRA MENYUSUL MBAH SURIP

WS RENDRA MENYUSUL MBAH SURIP

Written By Muhammad Yuliawan on Jumat, Agustus 07, 2009 | 8/07/2009


Kemarin dan esok

adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan
sama saja
Langit di luar
langit di badan
bersatu dalam jiwa.

Kabar duka masih menggelayut di Bengkel Teater Rendra di Citayam, Depok. Belum habis rasa duka yang mendalam dengan kepergian seniman fenomenal Mbah Surip (52) yang dikebumikan Selasa (4/8) malam, kabar duka datang lagi.

Setelah dirawat karena menderita serangan jantung koroner, budayawan dan penyair besar Indonesia WS Rendra wafat pada usia ke-74 di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat.

Pendiri Bengkel Teater yang termasyur itu dikenal sebagai seniman serba bisa, tidak hanya budayawan terkemuka nasional, penyair dan dramawan besar, namun juga seorang aktor.

Disutradarai Sjuman Djaya, dan berpasangan dengan aktris Yati Octavia, pada 1977, Rendra pernah membintangi film remaja "Yang Muda Yang Bercinta," namun kemudian dilarang beredar karena tujuan-tujuan politis saat itu.

Dalam salah satu penampilan puisi terkenalnya pada Mei 1998, di ruang gedung DPR RI semasa awal reformasi, almarhum berorasi dengan membacakan puisi karya aktivis dan penyair Wiji Thukul yang kesohor, "Hanya ada satu kata, Lawan!"

Jauh sebelum itu, pada 1990an, bersama para seniman dan musisi seperti Iwan Fals, Setiawan Jodi, Sawung Jabo, dan lainnya, Rendra menggelar konser Kantata Takwa yang fenomenal dan mengusik rezim Orde Baru saat itu, diantaranya dengan menggelegarkan lagu "Bento" yang penuh kritik.

Di luar kehidupan rumah tangganya yang ramai oleh perhatian media, Rendra mungkin merupakan salah seorang sastrawan Indonesia paling berpengaruh tidak hanya pada dunia seni dan sastra nasional kontemporer, namun juga pergerakan sosial dan politik Indonesia pada empat dekade terakhir.

Lahir pada 7 November 1935 di kota Solo, Jawa Tengah, Rendra yang juga cerpenis ini pernah berkuliah pada Jurusan Sastra Inggris, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, setelah sebelumnya menamatkan SD sampai SMA di St. Yosef, Solo, pada 1955.

Pada 1964, dia memperoleh beasiswa dari American Academy of Dramatical Art, sampai selesai menempuhnya pada 1967.

Salah seorang ikon sastra nasional yang dikenal dengan sebutan "Si Burung Merak" ini terlahir dari pasangan Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah, dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra.

Sejak masa remaja, Rendra sudah terbiasa menulis naskah drama sampai kemudian menjadi salah seorang dramawan besar Tanah Air, namun dikenal sebagai sastrawan independen dan memiliki ciri khasnya sendiri.

Oleh karena itu, mengutip Prof. A. Teeuw dalam "Sastra Indonesia Modern II (1989)" seperti ditulis Wikipedia Indonesia, Rendra tidak termasuk pada satu pun angkatan sastra Indonesia, baik Angkatan 45, Angkatan 60an dan Angkatan 70an.

Rendra menikah tiga kali dengan tiga perempuan berbeda. Pertama pada 31 Maret 1959 dengan Sunarti Suwandi yang darinya dia dikarunia lima anak, yaitu Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa dan Klara Sinta.

Kedua, pada 12 Agustus 1970, dia menikahi murid seninya yang juga keturunan Keraton Yogyakarta, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Dari Sitoresmi, Rendra dikaruniai Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Terakhir, Rendra menikahi Ken Zuraida, hingga kemudian dikarunia Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Pada 1979 dan kemudian pada 1981, Rendra berturut-turut menceraikan Sitoresmi dan Sunarti.

Diantara belasan naskah drama terkenalnya adalah "Orang-orang di Tikungan Jalan," "Panembahan Reso," dan "Kasidah Barzani." Rendra juga menulis banyak puisi dan sajak, diantaranya yang terkenal adalah "Nyanyian Angsa" dan "Sajak Rajawali."

Rendra juga beberapa kali memperoleh penghargaan sastra, diantaranya :

* Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Depdikbud,Yogyakarta (1954)
* Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
* Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
* Hadiah Akademi Jakarta (1975)
* Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
* Penghargaan Adam Malik (1989)
* The S.E.A. Write Award (1996)
* Penghargaan Achmad Bakri (2006).


Dihimpun dari berbagai sumber

Share this article :

46 comments:

  1. Innalilahi wa innailaihi raji'un..turut berduka cita bro, moga arwahnya di terima di sisiNya amin.

    BalasHapus
  2. Turut berduka atas meninggalnya WS Rendra...

    BalasHapus
  3. Selamat jalan wahai Sang Burung Merak. Semoga arwahmu diterima disisiNya. Semoga Rendra - Rendra baru bersemi di persada dan mengharumkan bumi kita lagi.

    Bang, kotak pesannya mana....?

    BalasHapus
  4. Selamat Jalan Budayawan Muslim, Doa kami untukmu...

    BalasHapus
  5. selamat jalan...moga arwahnya diterima disisiNYA...aamiin

    BalasHapus
  6. Sekali lagi Indonesia kehilangan sastrawan terbaiknya, selamat jalan WS Rendra, semoga ada penerusmu yang akanmenggantikan engkau sebagai sastrawan besar nanti.

    BalasHapus
  7. sekaranfg malah rendra yang meninggal
    apa janjian ama mbah surip ya?

    BalasHapus
  8. hix hix hix.. apa benar om rendra sudah dikebumikan?? belum percaya!! nanti saya lihat televisi..! duh siapa nih penerusnya....

    BalasHapus
  9. Turut berduka...
    Semoga amal dan ibadah beliau diterima disisi Tuhan YME, amin....

    BalasHapus
  10. Innalilahi wa innailaihi raji'un..turut berduka cita, indonesia kehilangan lagi bang.

    BalasHapus
  11. moga arwahnya di terima di sisiNya amin.

    BalasHapus
  12. Selamat Jalan Burung Merak!

    Semangatmu akan slalu dihidup dihati para penerusmu

    BalasHapus
  13. Sang Maestro sudah kembali, suatu saat kita akan menyusul. Mari semua mempersiapkan diri

    BalasHapus
  14. Semoga kita semua bisa introspeksi

    BalasHapus
  15. minggu ini indonesia tlah khlangan 2 sosok.
    mbah surip dngn skapnya yg bershja..dan ws rendra dengn krya2nya yg sngt trsohor...

    BalasHapus
  16. huahauuhuahau.. ayo ayo silakan lihat postingan tentang hantu mbah surip di sini http://aprillins.com/2009/08/07/hantu-mbah-surip-ada-di-mana-mana/

    hehehehe saya juga mengalami soalnya jadi saya berbagi kisah dengan pak iwan :p

    BalasHapus
  17. dalam seminggu kehilangan dua seniman besar..

    BalasHapus
  18. Wah, baru tahu nih..akh..kehilangan lagi deh seorang penyair hebat.

    BalasHapus
  19. Innalilahi wa innailaihi raji'un, semoga amal ibadahnya di terima disisi Alloh SWT. semoga cita2nya melihat negara ini maju bisa terwujud, krn yg yakin akan negara ini banyak...selamat tinggal burung merak...

    BalasHapus
  20. hii... iya ikutan sedih nie salah satu maestro sastra Indonesia dah gak ada lagi dan belum tentu nanti ada penggantinya...

    BalasHapus
  21. i am coming bang iwan, sori baru bisa mampir lagi. kemarin mo'jo ki kompor ku minta diganti sumbunya...pantas nda ada apinya ternyata abiz min sumbunya edd..itam mi tangan kuw hihihi..

    BalasHapus
  22. selamat jalan rendra, semoga di sana bahagia...

    BalasHapus
  23. saking solmetnya kali bang iwan , sampe 2 ninggal aja ngajak2 xixixi...
    turut berduka cita

    BalasHapus
  24. kenapa ya beliau disebut si burung merak?

    turut berduka..

    BalasHapus
  25. kita kehilangan lagi seorang penyair kritisi...

    BalasHapus
  26. Innalilahi wa innailaihi raji'un.. Semoga arwahnya diterima disisi_NYA. Amin..
    BTW..., ulasan tentang WS Rendra keren banget...

    BalasHapus
  27. lho komentku kok nggak ada yak....ya udah.....turut berduka cita bang......

    BalasHapus
  28. Indonesia kembali berduka. ibu pertiwi kehilangan salah satu putra terbaiknya. kritikus sejati pembela wong cilik.

    kini, hanya doa yang mampu menghantar kepergiannya. semoga damai senantiasa menyertai tidur panjangnya dalam dekapan ilahi.

    Iklan Gratis

    BalasHapus
  29. turut berduka cita untuk Mbah Surip dan WS Rendra, semoga karya-karya alm menjadi motivasi bagi anak bangsa yang lain untuk bisa berprestasi lebih baik dio bidang masing-masing, semoga keluarga diberi keikhlasan dan ketabahan...

    BalasHapus
  30. mari berdo'a bersama untuk beliau....

    BalasHapus
  31. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...

    BalasHapus
  32. selamat jalan ws rendra,semoga kau ditrima disisiNya

    BalasHapus
  33. mampir lagi bang. ;) gimana kabarnya bang?

    BalasHapus
  34. bang, kok saya mulai jenuh ngeblog yah?

    BalasHapus
  35. bang gimana neh saranya biar gak bosen he3....

    BalasHapus
  36. Turut berduka cita.. Selamat Jalan burung merak..

    BalasHapus
  37. selamat jalan rendra, namamu tetap dikenang lewat karya-karyamu

    BalasHapus
  38. turut bersedih...secara WS Rendra itu penyair hebat dan aku suka karyanya

    BalasHapus
  39. turut berduka cita. lho..komentku gak muncul?

    BalasHapus
  40. Pertiwi menangis lagi, seorang seniman besar anak negeri telah pergi....

    Semoga ketenangan menyelimuti beliau di alam sana....

    BalasHapus
  41. Semoga amal ibadahnya di teria di sisi Allah SWT. Kematian merupakan sesuatu yang tak pernah terduga dan tidak mengenal usia dan kasta. Dan, kita tidak tahu, siapa lagi yang akan menyusul mereka

    BalasHapus
  42. Satu persatu Pujangga-Pujangga di indonesia telah pergi....
    Ku berharap ada pengganti pujngga2 yang telah mengharumkan nama indonesia..

    BalasHapus
  43. mereka yg telah pergi tapi tetap hidup dalam hati.Salut.

    BalasHapus

loading...

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : FATAMORGANA
Copyright © 2015. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger