Home » , , , » Memoar Romantika Probosutedjo : Saya dan Mas Harto

Memoar Romantika Probosutedjo : Saya dan Mas Harto

Written By Muhammad Yuliawan on Sabtu, Mei 08, 2010 | 5/08/2010


Adik mantan (alm) Presiden Soeharto, Probosutedjo, meluncurkan buku bertitel Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto, Sabtu (1/5/2010) sore di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Berita ini saya baca di sebuah koran lokal yang tergeletak di meja saya pagi ini. Yang secara kebetulan salah satu Strasiun TV mengadakan wawancara dengan Probosutejo tentang peluncuran buku ini.

Karena saya sebagai salah seorang pengagum Pak Harto, maka segera saya browsing untuk mencari keterangan tentang hal ini.

Berikut hasil browsing saya yang saya kutip dari Kompas.com dan KabarIndonesia.com :

Peluncuran buku ini bertepatan dengan hari ulang tahun Probo ke-80. Dalam buku setebal 680 halaman itu, Probo menuangkan berbagai kisahnya bersama Soeharto. Ia mengungkapkan dengan terbuka bahwa di balik tudingan negatif tentang Soeharto, ia menyerap banyak catatan positif tentang cita-cita besar kakak kandungnya.

"Saya awalnya tidak mau menulis buku ini, tetapi banyak yang mendesak saya," ujar Probosutedjo dalam jumpa pers setelah peluncuran buku tersebut.

Probo menilai, pasca lengsernya Soeharto, banyak persepsi yang salah terhadap kakaknya tersebut. "Terutama mengenai sikap Mas Harto terhadap Bung Karno. Mas Harto sangat menghormati beliau," ujarnya.

Tak lengkap peristiwa G30SPKI jika tidak dibarengi dengan cerita Supersemar. Probo memuat satu bab tersendiri soal cerita ini. Ia berusaha meyakinkan jika surat perintah itu benar-benar ada yang memerintahkan kakaknya untuk memulihkan keamanan tanpa pernyataan pembubaran PKI. Surat itupun akhirnya dipegang oleh Brigjen Sutjipto dari Komando Tinggi untuk digandakan. "Mas Harto tidak menyimpan surat tersebut karena dia berfokus pada hakikat tanggung jawabnya, bukan pada fisik surat dalam bentuk selembar kertas," tukasnya.

Buku ini juga memuat cerita Probo tentang dirinya sendiri. Ia menjawab tuduhan atas bisnis-bisnisnya yang dikaitkan dengan KKN, termasuk pengalamannya saat dijebloskan ke dalam penjara pada tahun 2003. Ia menceritakan bahwa pengalaman di Sukamiskin merupakan saat memulai kehidupan baru. Hidup di penjara pun memberikan kesan positif karena banyak kerabat yang rajin menyambangi.

"LP Sukamiskin memberikan restu pada saya untuk mengolah lahan-lahan kosong yang tak terpakai dan mulailah saya mengajak para napi bekerja," ujarnya mengenang kehidupan di Sukamiskin. Hasilnya, area LP Sukamiskin menjadi ladang pertanian. Para napi menanam berbagai macam tumbuhan, seperti cabai merah, bayam, dan melon hingga sukses panen. Bahkan, ia menjadi pemegang rekor penyelenggara seminar pertama di dalam penjara oleh Muri. Tetap saja pikiran terhadap Soeharto ada di dalam benaknya.

"Saat saya datang, Mas Harto berada dalam kondisi sadar. Tangannya memeluk saya erat dan dia menangis. Dia tak bisa bicara apa-apa kecuali menatap saya dengan dalam," kenangnya mengingat saat-saat terakhir bersama Soeharto.

Ia mengakui, buku memoarnya lebih banyak bercerita tentang romantikanya bersama Soeharto. Penulis buku memoar ini, Alberthiene Endah, mengungkapkan, menulis buku seorang Probosutedjo merupakan pengalaman berharga baginya. Menurutnya, di usia yang menginjak 80 tahun, Probo bisa bertutur dengan runtut peristiwa demi peristiwa.

Ini sangat membantu saya karena memberikan cerita yang memadai dan memudahkan saya dalam menulis. Beliau juga sangat berpijak pada fakta dan data yang ia miliki," kisah wanita yang akrab disapa AE ini.

"Kalau buku ini bisa setebal 680 halaman, itu dikarenakan kekayaan materi cerita dari Pak Probo sendiri," jelas Endah.

Diakhir bukunya, Probo mencoba mengungkapkan curahan hati dirinya dan juga kakaknya Almarhum Soeharto bahwa mereka benar-benar mencintai negara ini.

“Kami mencintai Indonesia dengan segenap rasa cinta, ketulusan, dan tanpa pamrih. Oleh karenanya, kami siap menanggung resiko apapun atas perjuangan yang kami tempuh. Termasuk, ketika orang sudah tidak lagi mengingat karya positif yang telah kami buat,” tutup pria sepuh ini.

Buku berjudul Saya dan Mas Harto dibuat selama 5 bulan, terhitung sejak Desember 2009, dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Harga buku tersebut dibanderol Rp 200.000 untuk hardcover dan Rp 150.000 untuk yang softcover.

Sumber gambar disini

Share this article :

25 comments:

  1. pasti menarik membaca buku tetang suharto dari kacamata orang terdekatnya

    BalasHapus
  2. Sebuah pernyataan yang luar biasa panjang,..Sampai 680 halaman pastinya lengkap dan runtut ya pak...


    Link anda terpasang diblog favoritku pak... Maturnuwun

    BalasHapus
  3. sah-sah saja untuk membuat kita melihat pak harto dari sisi lain.

    BalasHapus
  4. Wah gagal pertama saya...^^
    SUKSES PAK!

    BalasHapus
  5. Saya juga Pengagum Pak Harto..

    Thanks infonya Kang..

    BalasHapus
  6. 680 halaman tentang sisi baik pak harto....

    BalasHapus
  7. Buku ini memang sangat perlu hadir untuk masyarakat Indonesia. Terutama bagi generasi muda. Obyektifitas sejarah berdasarkan kesaksian para pelaku sejarah sangat diperlukan untuk merekonstruksi masa lal bangsa ini.

    BalasHapus
  8. oh mengingat pak Harto ya?

    BalasHapus
  9. sungguh buku yang menarik sekali dan akan bercerita dari sudut pandang yang berbeda.

    BalasHapus
  10. Buku yang menarik untuk dibaca, mewarnai perjalanan hidup Pak Harto dari sisi yang berbeda.

    BalasHapus
  11. pak harto itu sebenarnya orangnya baik, terbukti belum ada presiden seperti pak harto dalam negeri ini

    BalasHapus
  12. cerita mbah probo tentang mbah harto.. panjang banget ya sampai ratusan lembar; hampir setahun saya tidak singgah di sini;
    met liburan mas iwan :)

    BalasHapus
  13. Jadi pengen baca buku aslinya nih Bang... tapi mahal juga ya harganya.

    BalasHapus
  14. Menarik banget utk mengetahui sisi lain seorang tokoh besar dari orang terdekatnya. Aku yakin, sebagaimana manusia biasa, pak Harto pasti memiliki kelebihan juga, meskipun selama ini yg disoroti lebih banyak kekurangannya.

    BalasHapus
  15. Buku yang layak dibaca, untuk pembanding tentu saja. Resensi mantap bang Iwan.

    BalasHapus
  16. wah saya ketinggalan berita nih :)

    BalasHapus
  17. saya kagum ma pak harto, kalau besar nanti ku mau jadi seperti dia ah. . . .

    BalasHapus
  18. siap laksanaken baca...!!!

    jaman mas harto berkuasa setidaknya tidak terlalu lebay bak reality show seperti sekarang ini...anak kecil merasa tidak takut punya cita-cita hanya karena miskin..karena kalo sekolah tinggi bisa memperbaiki nasib..kalo sekarang sekulah s1 juga nasibnya biasa-biasa aja kalo ga punya cukong...nasibb..nasiibb...

    BalasHapus
  19. hm... cinta itu banyak bentuknya dan beragam penafsiran yang menyertainya

    BalasHapus
  20. waduh muter2 selalu ngliat gravtar bang iwan..
    jadi penasaran.. akhirnya terdamar juga disini hehe :)

    anyway, great post!! Pak Harto jgn dinilai hanya dari sisi negatifnya saja.. beliau pun pernah memberikan kontribusi positif..

    salam kenal yah.. :)

    *tukeran link ama newbie (yg sedang berkembang) mau gak yah :D

    BalasHapus
  21. sy belum terlalu ngerti waktu peristiwa reformasi. tapi yg ada, sy turut nangis waktu beliau (pak harto) meninggal. sepertinya buku ini menarik. tapi mahal euy :D

    BalasHapus
  22. melihat sisi lain dari Pak Harto rupanya isi buku ini ya Bang.
    salam

    BalasHapus
  23. wah keren nih cerita tentang pak harto dari sudut pandang adiknya..;)

    BalasHapus
  24. buku tersebut akan ikut mewarnai sejarah bangsa ini...

    BalasHapus

SAHABAT FATAMORGANA

 
Support : FATAMORGANA
Copyright © 2015. FATAMORGANA - MERANGKUM FAKTA, MEREKAM INFORMASI, DAN BERBAGI KHAZANAH
Created by Creating Website Published by Mas Template
Powered by Blogger